Music Therapy with Children with Autism.png

Advertisements

Terapi Musik di Lembaga Pemasyarakatan Anak

Mungkin merupakan suatu pengetahuan yang baru bahwa terapi musik juga dapat dilakukan di lembaga pemasyarakatan (LAPAS). Di lapas, remaja menjalani masa tahanan atau percobaan dan dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat. Terapi musik berfungsi untuk membantu remaja-remaja ini dalam menghadapi masalah/tantangan fisik, psikologis, emosi, sosial, perilaku, kognitif, komunikatif, dan spiritual (www.musictherapy.org).

Metode yang dilakukan dalam sesi terapi musik meliputi kegiatan mendengarkan musik, improvisasi, dan kegiatan-kegiatan rekreasional lainnya. Selain untuk relaksasi, kegiatan yang menggerakkan anggota badan dengan diiringi musik atau melibatkan musik juga baik untuk mereka yang tinggal di ruang yang terbatas. Dalam wadah yang terstruktur, musik digunakan sebagai sarana komunikasi nonverbal, dan juga menjadi sarana yang aman untuk remaja-remaja ini dalam mengekspresikan emosi mereka. Tidak menutup kemungkinan bahwa dalam proses berjalannya terapi musik, remaja-remaja ini memperoleh ketrampilan bermusik, bahkan memainkan suatu alat musik. Hal ini dapat mendorong kepercayaan diri remaja-remaja tersebut.

Sebagai seorang remaja yang melakukan praktikum dengan kelompok klien yang sebaya, beragam perasaan dialami oleh salah mahasiswa-mahasiswa terapi musik UPH. Evan Christian Gunardi, salah satu mahasiswa kami merefleksikan perasaannya pada waktu pertama kali datang ke LAPAS anak dan bertemu dengan calon klien terapi musiknya.

Cerita Evan: 

(di-edit oleh Monica Subiantoro)

Memulai suatu sesi terapi musik merupakan hal yang menarik buat saya. Sebagai bagian dari praktikum terapi musik dengan remaja, saya akan bekerja dengan remaja pria di LAPAS Anak Pria Tangerang, dan membentuk suatu kelompok terapi musik. Setting dan populasi klien yang baru membawa kesan tersendiri kepada saya. Remaja di dalam lapas ini sangat memiliki keragaman dari sisi agama, budaya, suku, umur, dan yang pastinya latar belakang yang berbeda-beda. Pada sesi awal saya diberikan kesempatan oleh pihak lapas untuk bekerja dengan kelompok klien yang beragama Kristiani dengan rentang usia 16-23 tahun. Sebagai terapis yang memiliki umur sebaya dengan klien, bahkan lebih muda dari beberapa klien di dalam kelompok tersebut, rasa takut, cemas, bahkan intimidasi menghantui saya. Rasa takut saya yang terbesar adalah, mampukah saya untuk memberikan aktivitas sesi terapi musik yang mereka butuhkan. Saya juga berharap agar efek dari terapi musik juga dapat dirasakan oleh seluruh isi lapas. Di benak saya, saya memiliki banyak pertanyaan seperti apa penyebab mereka hingga masuk ke lapas ini, namun saya ingin memandang mereka layaknya remaja pada umumnya dan mengakrabkan diri dengan mereka.

Dimulai dengan perkenalan dan menyebutkan hobi serta cita-cita, saya mulai kenal dengan mereka satu per satu. Lalu seketika saya memiliki rasa kasihan kepada mereka, karena mereka juga memiliki keinginan dan tujuan seperti saya tetapi karena suatu kesalahan mereka harus ‘terjebak’ di sana. Saya juga sempat menanyakan apa saja yang mereka lakukan di dalam lapas, dan menemukan bahwa aktivitas mereka tidak banyak. Semoga dengan adanya sesi terapi musik, mereka bisa termotivasi kembali, dan juga dapat meningkatkan kualitas hidup mereka meski berada di dalam lapas.

Terapi musik untuk lapas ini dapat bertujuan untuk memberikan kembali rasa percaya diri pada setiap anggotanya, membangun rasa kebersamaan dan kekompakan antar remaja, dan juga dapat mempersiapkan setiap remaja supaya siap dan memiki self-esteem yang memadai untuk kembali ke dalam dunia sosial. Harapan saya secara pribadi, saya ingin mereka bisa tetap melanjutkan aktivitas terapi musik secara mandiri setelah sesi berakhir, dan mereka dapat merasakan efek serta hasil dari sesi yang telah dijalankan. Bahkan saya ingin suatu hari terapi musik dapat dimasukan ke dalam lembaga lapas sebagai suatu aktivitas yang resmi dari pemerintah untuk para penghuni lapas.

Setengah Lingkaran

Oleh Feberina Charista

(diedit oleh Monica Subiantoro) 

Di kunjugan kami selanjutnya, jumlah remaja di Rumah Belajar Tenjo lebih sedikit dari minggu sebelumnya. Jika biasanya jumlah remaja dapat mencapai 15 orang, kini hanya 9 orang. Setelah kami menyapa mereka denga Hello Song”, kemudian kami mengajarkan sebuah lagu berhasa inggris berjudul “Manners” kepada remaja disana. Lirik lagu dalam lagu ini berupa kata “please and thank you”. Latar belakang kami memilih lagu ini karena menurut kami, sangat penting bagi seorang remaja untuk memahami sopan santun, dan hal ini dapat dimulai dari kata tolong dan terima kasih.

Selain lagu yang baru, kami juga membuat sedikit perubahan baru pada susunan duduk mereka. Posisi kursi dan meja yang biasanya diatur seperti ruang kelas yaitu terdiri dari 3 baris pararel menghadap papan tulis, pada sesi terapi kali ini diubah menjadi satu lapisan berbentuk setengah lingkaran. Ternyata dengan perubahan kecil, pengaruh langsung dapat dirasakan. Hal pertama, yaitu meningkatnya kontak mata. Dalam posisi duduk yang sebelumnya kontak mata antara kami dengan para remaja seringkali terhalang karena posisi duduk yang berbaris ke belakang. Selain kontak mata, interaksi dan atensi para remaja disana juga lebih efektif karena kami semua dapat saling menatap wajah secara langsung.

Setelah sesi selesai, guru pembimbing di rumah belajar ini berkata bahwa posisi duduk setengah lingkaran seperti tadi membawa pengaruh positif terhadap kegiatan belajar mengajar di kelas tersebut. Ia merasa terbantu dengan lebih mudah menyampaikan pelajaran, serta mengkoordinir para remaja untuk dapat berkonsentrasi selama mereka berada di kelas. Proyeksi suara beliau terdengar lebih jelas, sehingga secara tidak langsung berdampak pada peningkatan konsentrasi para remaja dalam mengikuti pelajaran. Beliau juga mengatakan bahwa ia tidak menyangka jika perubahan posisi duduk yang sebelumnya tidak dihiraukan, dapat sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar di tempat itu. Berdasarkan keadaan ini, kami ingin agar remaja di rumah belajar Tenjo dapat meningkatkan atensi dan konsentrasi mereka, serta dapat meningkatkan kontrol diri dalam bersikap terutama selama proses belajar mengajar.

Rumah Belajar Tenjo

Rumah Belajar Tenjo

Oleh Feberina Charista, mahasiswi tahun ke-3 UPH Terapi Musik

Rumah Belajar yang terletak di Desa Cilaku, Kecamatan Tenjo, Bogor merupakan sebuah tempat belajar bagi anak-anak PAUD, SD, SMP, dan SMA. Tempat ini didirikan oleh GKI Gading Serpong pada tahun 2008 dan bertujuan untuk memberikan bimbingan belajar berupa pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika kepada anak-anak di Tenjo. Rentang usia anak-anak di Rumah Belajar Tenjo mulai dari 5 sampai 18 tahun. Bimbingan belajar dilakukan dua kali seminggu yaitu setiap hari Senin untuk pelajaran Bahasa Inggris dan hari Jumat untuk pelajaran Matematika. Relawan pengajar Bahasa Inggris berjumlah 6-7 orang, sementara pengajara Matematika berjumlah 9-10 orang. Para pengajar di rumah belajar Tenjo ini rata-rata merupakan anggota jemaat GKI Gading Serpong.

Perjalanan dari Gading Serpong menuju Tenjo memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit jika menggunakan kendaraan pribadi. Belum ada angkutan umum yang beroperasi di desa ini, sehingga sarana transportasi jarak jauh yang dapat digunakan untuk mencapai daerah ini hanyalah kereta api. Jalanan beraspal yang hanya dapat dilalui oleh satu buah mobil dan hamparan sawah luas yang berada di tepi jalanan tersebut menunjukkan masih asrinya daerah ini. Rumah belajar Tenjo merupakan rumah berukuran kurang lebih 10×10 meter persegi. Dindingnya masih terbuat dari batang bambu yang dicat putih dan sekat antar ruangan hanya dibatasi oleh tirai yang digantungkan di langit-langit. Di salah satu sisi ruangan terdapat rak-rak buku yang berisikan buku-buku pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, maupun komik dan buku cerita, serta terdapat satu set alat musik angklung di atas rak tersebut. Di setiap ruangan terdapat sebuah papan tulis, beberapa kursi dan meja yang rata-rata terbuat dari kayu, serta kipas angin yang menggantung di dinding.

Saar kunjungan kami ke Tenjo pada hari Senin, hari dimana anak-anak disana belajar Bahasa Inggris, Saya dan teman saya sebagai mahasiswa terapi musik mengajak mereka untuk melakukan kegiatan yang berbeda dari yang mereka biasa lakukan di rumah belajar tersebut. Kami mengajarkan 2 buah lagu baru dengan Bahasa Inggris yaitu “Hello Song” dan “Goodbye Song”. Kata-kata dalam Bahasa Inggris yang kami gunakan sangat sederhana seperti kata sapaan “Hello everyone” dan “Goodbye everyone”. Pertama, kami menuliskan lirik lagu ini di papan tulis dan memberitahu mereka makna dari lagu berbahasa Inggris ini. Kemudian, kami menyanyikan lagu ini dengan iringan gitar dan diluar ekspektasi kami, respon dari mereka luar biasa positif. Suara mereka yang tidak mau-malu dan senyuman di wajah mereka menunjukkan antusiasme dan kegembiraan saat bersama-sama menyanyikan lagu ini. Setelah beberapa kali pengulangan, mereka terlihat telah menguasai lagu ini. Maka dari itu, kami menghapus lirik di papan tulis dan menambahkan gerakan tepuk tangan di lirik “everyone”. Dengan cepat mereka dapat mengikuti gerakan tepuk tangan sesuai lagu tersebut.

Remaja disana yang sebelumnya kurang mengenal satu sama lain karena kehadiran anak-anak di rumah belajar Tenjo setiap minggunya tidak pasti, mampu berbaur dengan anak-anak lainnya saat bersama-sama menyanyikan kedua lagu ini. Beberapa remaja yang juga biasanya kurang konsentrasi di kelas, suka mengganggu teman-temannya dan suka membuat keributan di kelas, saat mereka menyanyikan lagu ini, mereka dapat berbaur dengan remaja-remaja lain dan berkonsentrasi dalam menyanyikan lagu ini sampai selesai. Tanpa mereka sadari, musik telah menyatukan mereka dan terlebih dari itu telah memberikan senyuman di setiap wajah mereka.

a confession to begin with

It’s been a year since I bought this domain. It has been abandoned, and I can’t feel guiltier. Looking at the brighter side, however, I now feel more ready to share something since some works have been started and marvellous changes have been seen. From a quiet, rather sizzling classroom to a noisy and occasionally full-of-tears-and-screams music therapy room; an unconfident child who has speech delays now proudly builds constructions with the instruments and makes his own songs; a frustrated mum who now learns to sync her pace with her child’s and celebrate every tiny progress her child makes; trainees who are getting more and more sensible and reflective each day; it’s incredible how human interaction impacts on people’s wellbeing. Thanks to music who always readily serves as a medium in these processes.

I have invited my students to share about their experiences with music therapy. Our stories will hopefully depict what music therapy in Indonesia looks like.

Turn your background music on and.. Happy Reading! 🙂