Manfaat Terapi Musik Bagi Lansia Yang Mengalami Masalah Kognitif oleh Tigor Hutabarat

Terapi musik merupakan suatu metode terapi yang menggunakan musik sebagai media atau intervensi dalam pelaksanaannya. Terapi musik, kerap digunakan untuk membantu orang – orang yang memiliki kebutuhan khusus ataupun gangguan lainnya yang seringkali dijumpai pada kehidupan sehari – hari seperti autisme, cerebral palsy, stroke, demensia, dan lain sebagainya.

Pada satu kesempatan dalam praktek terapi musik dengan lansia, saya ditempatkan di sebuah panti wredha dan berkesempatan untuk menangani seorang klien lansia berusia 67 tahun, berinisial L yang memiliki masalah kognitif, dimana klien mengalami penerunan kemampuannya dalam memori jangka pendek, yang dimana hal tersebut merupakan salah satu gejala awal dari penyakit demensia, yang dikhawatirkan akan berkembang semakin parah. Oleh karena itu, saya merencanakan dan merancang kegiatan terapi musik untuk klien berupa kegiatan yang dapat dan bertujuan untuk menjaga serta mempertahankan kemampuan kognitifnya agar klien terjaga dari penyakit demensia yang menantinya.

Demensia sendiri merupakan suatu penyakit yang melumpuhkan kemampuan kognitif dari penderitanya, sehingga penderita demensia secara perlahan, waktu demi waktu tidak dapat melakukan suatu kegiatan apapun. Tanda – tanda awal dari penyakit ini adalah penderita mulai sulit untuk mengingat hal – hal sederhana yang baru saja dilakukan, suka menyendiri, menutup diri dari kehidupan sosial, dan lain sebagainya. Kebanyakan kasus kematian dari penyakit demensia ini disebabkan bukan karena penyakit demensia itu sendiri, melainkan sebab yang ditimbulkan dari penyakit itu, seperti korban yang terjatuh dan terbentur objek keras karena tidak memiliki kemampuan untuk berjalan atau tidak ingat bagaimana caranya untuk berjalan, dan masih banyak lagi. Hal – hal diatas adalah bentuk sederhana dari bagaimana kita dapat memahami apa itu penyakit demensia.

 

Kembali lagi kepada klien L.

Pada waktu pertama kali saya bertemu dengan klien L, beliau terlihat cukup terbuka dan menerima kehadiran saya untuk melakukan wawancara dan menjelaskan tentang kegiatan terapi musik yang akan dilakukan bersama dengan klien.

Selama kegiatan praktek terapi musik dengan lansia yang saya lakukan dengan klien L berlangsung selama beberapa kali sesi, saya mendapati adanya perkembangan yang ditunjukkan oleh klien berupa daya tangkap dan ingat yang lebih baik daripada awal saat pertama kali saya melakukan sesi dengan klien. Pada sesi – sesi awal terapi musik yang kami lakukan, klien terlihat memiliki kesulitan dalam mengikuti kegiatan berupa instruksi yang saya aplikasikan kedalam sebuah konsep improvisasi menggunakan iringan lagu dan instrument maupun tanpa instrumen yang dilakukan oleh klien. Oleh karena itu metode ini saya lakukan secara berulang – ulang dalam satu sesi agar klien dapat menangkap instruksi dengan baik dan mampu mengikutinya sesuai dengan arahan saya sebagai seorang terapis. Selain kegiatan improvisasistruktur yang saya namai sendiri yang juga bersifat kegiatan terapi musik aktif, saya juga melakukan beberapa kegiatan terapi musik secara reseptif dengan kegiatan yang bereferensi dari sumber yang ada yang sudah saya dapatkan dan saya pelajari lalu saya modifikasi sedikit agar cocok dengan kondisi klien L yang memiliki beberapa keterbatasan dalam segi fisik. Kegiatan terapi musik reseptif yang saya lakukan diantaranya adalah mengingat kalimat yang dinyanyikan dan menyebutkannya kembali dimana kegiatan ini terinspirasi dari metode MIT yang saya ambil berupa tahapan – tahapan dari metode tersebut. Adapun juga kegiatan terapi musik reseptif yang murni saya ambil yaitu berupa song lyrics discussion. Semua kegiatan yang saya rancang dan saya lakukan sudah dipertimbangkan dengan baik dan matang sesuai dengan kebutuhan kognitif dari klien, alhasil semua kegiatan dapat berjalan dengan baik dan lancar serta memenuhi target yang ingin saya capai. Dalam kasus ini, diperlukan adanya kesabaran dan ketekunan dalam mengahadapi klien yang memiliki masalah penurunan daya atau kemampuan kognitifnya, konsistensi dan persistensi merupakan kunci dalam kesuksesan menangani klien dengan gangguan kognitif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s