Pengalaman Perdana Dalam Terapi Musik oleh Theresia Dorothy

Perkenalkan, nama saya Theresia. Saya adalah seorang mahasiswa jurusan Conservatory of Music di Universitas Pelita Harapan. Pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan kisah pengalaman perdana saya dalam praktek terapi musik. Praktek terapi musik merupakan bagian dari kurikulum Music Therapy di UPH. Kami, para mahasiswa peminatan Music Therapy, wajib mengambil mata kuliah praktek selama empat semester. Untuk praktek pertama yang saya ambil adalah praktek terapi musik dengan anak. Saya ditempatkan di sebuah sekolah luar biasa yang berlokasi di Jakarta Barat. Pengalaman menjadi panitia pengajar di sekolah luar biasa untuk acara konser musik amal yang digelar di kampus UPH membekali saya dengan pengalaman berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Pun demikian, saya merasa gugup karena belum memiliki pengetahuan tentang sekolah luar biasa ini.

Saat saya pertama kali berkunjung ke tempat praktek, saya langsung menjalani asesmen dengan klien pertama yang dirujuk kepada saya. Saya belum mendapat informasi apa pun tentang klien yang dirujuk ini sebelumnya. Dapat dikatakan persiapan saya untuk melakukan asesmen mendekati nol. Hal ini membuat saya semakin gugup karena saya harus berimprovisasi dan beradaptasi dengan cepat. Untungnya, saya mendapat kesempatan berbicara dengan ibu dari klien sebelum saya mulai asesmen. Klien tersebut merupakan seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang didiagnosis dengan Down Syndrome. Menurut informasi dari ibu klien, klien suka bermain drum dan alat-alat perkusi lainnya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menggunakan djembe dalam asesmen pertama.

Saat proses asesmen berjalan, saya melihat bahwa klien benar-benar senang bermain instrumen perkusi. Hal ini terlihat dari reaksi klien ketika saya mengajak klien untuk bermain djembe. Saat saya mulai memainkan salah satu lagu anak yang cukup dikenal, klien mulai memainkan djembe. Padahal saat awal klien masuk ruangan, klien masih malu-malu dan hanya duduk diam di meja. Tetapi ketika klien mulai bermain djembe, klien menjadi aktif dan ekspresif. Saya melihat hal ini sebagai sebuah perkembangan positif. Tandanya, klien memiliki tingkat kepercayaan diri yang baik. Proses asesmen berlangsung selama 30 menit. Saya mulai merasa tenang karena selama proses asesmen, klien memiliki kegemaran bermusik. Ketertarikan klein pada musik menjadi modal utama dalam terapi musik.

Tujuan klien mengikuti terapi musik adalah untuk melatih kemampuan berbicara klien. Setelah sesi keenam, perkembangan klien mulai terlihat. Klien yang biasanya hanya babbling, sekarang mulai mengucapkan beberapa huruf vokal dengan jelas. Kemajuan ini membuat saya merasa senang karena sesi yang telah kami jalani membuahkan hasil yang positif. Perkembangan dari sesi terakhir adalah kemampuan klien mengucapkan beberapa huruf vokal dengan mandiri tanpa perlu saya dampingi. Di penghujung semester menjelang dua sesi terakhir, perasaan saya bercampur antara senang dan sedih. Sebagai seorang mahasiswa pada umumnya, tentu saya merasa senang karena sebentar lagi kegiatan praktek akan selesai. Akan tetapi sebagai calon terapis, saya merasa sedih karena sesi akan selesai. Saya masih ingin melakukan banyak kegiatan yang mungkin dapat membantu klien berkembang lebih banyak lagi.

Melalui kegiatan praktek perdana ini, saya mendapat banyak pelajaran berharga. Ada tiga pelajaran yang menurut saya adalah pelajaran paling penting dalam proses terapi. Pertama, saya belajar bagaimana cara beradaptasi dengan cepat. Banyak kejadian yang tidak terduga pada saat sesi terapi berlangsung. Sebagai seorang terapis, kita harus berpikir dan bertindak dengan cepat dalam menanggapi kejadian-kejadian tersebut. Kedua, saya belajar mengolah rasa simpati dan empati saya ketika berhadapan dengan klien. Sikap profesional adalah dasar yang harus dimiliki oleh setiap terapis. Ada beberapa kali setelah sesi terapi selesai dimana saya tidak bisa berhenti berempati kepada klien. Rasa empati tersebut terbawa terus sampai sheari setelah praktek. Jika dibiarkan, hal ini akan menjadi batu sandungan. Melalui kejadian ini, saya menjadi sadar akan kelemahan saya dan mulai belajar untuk memberi batasan kepada diri saya sendiri agar tidak terlarut dalam rasa empati tersebut. Ketiga, saya belajar bagaimana cara berinteraksi dan menanggapi anak-anak berkebutuhan khusus. Biasanya setelah saya selesai melakukan sesi, saya akan berkeliling sekolah untuk melihat dinamika kegiata belajar-mengajar di sana. Saya melihat bagaimana para guru menangani murid-muridnya. Para guru tersebut mengajarkan kepada saya bahwa kita memang harus berempati dengan murid-murid, namun di saat yang bersamaan kita tetap harus tegas dalam memberi struktur.

Terapi musik dan musik itu sendiri memang masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Akan tetapi saya pribadi merasa senang dan bangga akan terapi musik. Kami dapat mencapai banyak hal melalui proses yang menyenangkan dan seru karena bantuan media musik. Sesi terapi yang membosankan menjadi menyenangkan dan memberi semangat baru bagi klien maupun terapis. Semoga melalui pengalaman saya telah saya bagikan ini dapat membantu masyarakat lebih memahami tentang terapi musik dan manfaatnya bagi orang lain yang membutuhkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s