Menyadari Keadaan yang Sesungguhnya Dibandingkan Fokus Terhadap Ekspektasi Pribadi by Anastasia Maria L.

Sejak pertengahan bulan Oktober 2018, saya mendapat rujukan dari pihak tempat saya melaksanakan praktek, dimana klien yang dirujuk bukanlah klien yang kondisi tubuhnya masih bisa aktif bergerak karena diagnosa medis yang belum begitu parah, namun adalah klien yang menderita kanker otak. Ya, ia adalah A, seorang anak kecil berusia 2 tahun yang telah menderita kanker tersebut sejak setahun yang lalu, yakni setelah ia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-2 tahun. Sejujurnya saya sempat kaget ketika mendapat rujukan untuk klien ini, karena sebelumnya pihak dari tempat saya melaksanakan praktek ini tidak menyetujui jika anak yang tidak lagi bisa berbuat apa-apa, hanya bisa terbaring di kasur, mendapatkan penanganan terapi musik, akan tetapi saya malah mendapatkan rujukan untuk menangani klien dengan kondisi tersebut.

Pada awal atau pertama kali pelaksanaan praktek, saya sempat bingung untuk menentukan jenis kegiatan yang bisa melibatkan A di dalamnya karena kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan yang melibatkan gerakan tubuh yang aktif, di saat yang sama juga saya harus melibatkan ibu klien. Seiring berjalannya sesi, ibu klien yang dulunya mungkin kesulitan untuk mengekspresikan apa yang dia rasakan, kini menjadi lebih mudah untuk mengekspresikan perasaannya. Pada sesi individual pertama, ibu klien sering mengeluarkan emosinya melalui tangisan, terutama saat melakukan kegiatan lyric substitution dan GIM (Guided Imagery and Music). Saat itu juga orangtua klien menceritakan pada saya kronologi anaknya sejak masih sehat hingga berada di keadaan seperti saat ini. Waktu demi waktu berjalan hingga sesi yang ketiga atau keempat saya tak kunjung melihat suatu perkembangan yang signifikan pada klien yang saya tangani. Saya mungkin secara tidak sadar belum begitu memahami akan keadaannya, dan masih begitu terfokus akan diri saya sendiri yang sebagai terapis menentukan needs and goals dari klien saya. Selain itu, makin hari makin banyak pula faktor yang membuat saya mulai merasa enggan dan tidak termotivasi untuk menjalankan praktek; lokasinya yang jauh dimana saya harus menempuhnya dengan bus, klien yang memiliki kondisi sangat lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan pada beberapa kali saya datang untuk menjalankan sesi klien sedang dalam kondisi tertidur dan sangat sulit untuk dibangunkan sehingga saya hanya bisa melakukan sesi bersama orangtua klien. Hal ini tentu membuat saya mulai merasa saya kurang bisa melakukan sesuatu dan mungkin yang saya lakukan adalah sesuatu yang mulai terlihat sia-sia. Akan tetapi, tiap minggunya saya harus merefleksi diri saya terkait dengan praktek yang saya jalankan dan dalam kelas supervision bersama dosen saya disitulah saya makin mengenal diri saya, semakin berpikir lebih dalam dan tentu berpikir kembali ke belakang, dan hal ini makin menyadarkan saya akan banyak hal. Setelah merefleksi diri saya lebih dalam, saya menyadari banyak hal yang kini menjadi penyebab mengapa saya mulai enggan dan tidak termotivasi lagi untuk menjalankan praktek bersama klien A ini. Saya terlalu memfokuskan akan goals yang saya tetapkan secara pribadi sehingga selama saya menjalankan praktek, dalam diri saya selalu ada harapan atau ekspektasi bahwa klien dan saya bisa mencapai bersama goals tesebut. Saya melupakan atau mungkin tidak menyadari satu hal, yakni selain menjalankan sesi bersama klien ini sendiri, ada sosok orangtuanya yang selalu mendampingi, yakni ibunya. Saya juga baru teringat kembali akan pernyataan ibunya yang sempat mengatakan bahwa pihak medis telah menetapkan bahwa kondisi hidup dari klien ini sudah tergolong ke dalam Palliative, dimana secara tidak langsung klien ini bisa dikatakan tidak dapat sembuh lagi. Walaupun saya bukanlah ibu dari klien, namun saya tentu dapat membayangkan bagaimana rasanya jika salah satu anggota keluarga saya mengalami hal serupa, tentu begitu menyakitkan untuk menerima kenyataan tersebut. Saya akhirnya menyadari bahwa sosok orangtua klien pun sangat membutuhkan sesuatu dari sesi praktek yang saya jalankan, dan ternyata benar bahwa orangtua klien merasa lebih baik ketika ia bisa meluapkan emosinya selama ini dalam kegiatan bersama pada sesi yang saya jalankan. Hal ini kembali memotivasi saya ketika saya menyadari masih ada hal yang bisa saya lakukan terkait dengan orangtua klien dan secara tidak langsung pada klien ini sendiri.

Melalui sesi yang saya jalankan bersama A dan orangtuanya ini, saya tidak hanya mengenal kehidupan yang dijalani A dan ibunya, melainkan saya juga makin mengenal diri saya yang awalnya begitu terfokus dengan ekspektasi pribadi saya, kini bisa benar-benar memahami akan keadaan yang sedang saya hadapi sesungguhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s