Manfaat Terapi Musik Bagi Lansia Yang Mengalami Masalah Kognitif oleh Tigor Hutabarat

Terapi musik merupakan suatu metode terapi yang menggunakan musik sebagai media atau intervensi dalam pelaksanaannya. Terapi musik, kerap digunakan untuk membantu orang – orang yang memiliki kebutuhan khusus ataupun gangguan lainnya yang seringkali dijumpai pada kehidupan sehari – hari seperti autisme, cerebral palsy, stroke, demensia, dan lain sebagainya.

Pada satu kesempatan dalam praktek terapi musik dengan lansia, saya ditempatkan di sebuah panti wredha dan berkesempatan untuk menangani seorang klien lansia berusia 67 tahun, berinisial L yang memiliki masalah kognitif, dimana klien mengalami penerunan kemampuannya dalam memori jangka pendek, yang dimana hal tersebut merupakan salah satu gejala awal dari penyakit demensia, yang dikhawatirkan akan berkembang semakin parah. Oleh karena itu, saya merencanakan dan merancang kegiatan terapi musik untuk klien berupa kegiatan yang dapat dan bertujuan untuk menjaga serta mempertahankan kemampuan kognitifnya agar klien terjaga dari penyakit demensia yang menantinya.

Demensia sendiri merupakan suatu penyakit yang melumpuhkan kemampuan kognitif dari penderitanya, sehingga penderita demensia secara perlahan, waktu demi waktu tidak dapat melakukan suatu kegiatan apapun. Tanda – tanda awal dari penyakit ini adalah penderita mulai sulit untuk mengingat hal – hal sederhana yang baru saja dilakukan, suka menyendiri, menutup diri dari kehidupan sosial, dan lain sebagainya. Kebanyakan kasus kematian dari penyakit demensia ini disebabkan bukan karena penyakit demensia itu sendiri, melainkan sebab yang ditimbulkan dari penyakit itu, seperti korban yang terjatuh dan terbentur objek keras karena tidak memiliki kemampuan untuk berjalan atau tidak ingat bagaimana caranya untuk berjalan, dan masih banyak lagi. Hal – hal diatas adalah bentuk sederhana dari bagaimana kita dapat memahami apa itu penyakit demensia.

 

Kembali lagi kepada klien L.

Pada waktu pertama kali saya bertemu dengan klien L, beliau terlihat cukup terbuka dan menerima kehadiran saya untuk melakukan wawancara dan menjelaskan tentang kegiatan terapi musik yang akan dilakukan bersama dengan klien.

Selama kegiatan praktek terapi musik dengan lansia yang saya lakukan dengan klien L berlangsung selama beberapa kali sesi, saya mendapati adanya perkembangan yang ditunjukkan oleh klien berupa daya tangkap dan ingat yang lebih baik daripada awal saat pertama kali saya melakukan sesi dengan klien. Pada sesi – sesi awal terapi musik yang kami lakukan, klien terlihat memiliki kesulitan dalam mengikuti kegiatan berupa instruksi yang saya aplikasikan kedalam sebuah konsep improvisasi menggunakan iringan lagu dan instrument maupun tanpa instrumen yang dilakukan oleh klien. Oleh karena itu metode ini saya lakukan secara berulang – ulang dalam satu sesi agar klien dapat menangkap instruksi dengan baik dan mampu mengikutinya sesuai dengan arahan saya sebagai seorang terapis. Selain kegiatan improvisasistruktur yang saya namai sendiri yang juga bersifat kegiatan terapi musik aktif, saya juga melakukan beberapa kegiatan terapi musik secara reseptif dengan kegiatan yang bereferensi dari sumber yang ada yang sudah saya dapatkan dan saya pelajari lalu saya modifikasi sedikit agar cocok dengan kondisi klien L yang memiliki beberapa keterbatasan dalam segi fisik. Kegiatan terapi musik reseptif yang saya lakukan diantaranya adalah mengingat kalimat yang dinyanyikan dan menyebutkannya kembali dimana kegiatan ini terinspirasi dari metode MIT yang saya ambil berupa tahapan – tahapan dari metode tersebut. Adapun juga kegiatan terapi musik reseptif yang murni saya ambil yaitu berupa song lyrics discussion. Semua kegiatan yang saya rancang dan saya lakukan sudah dipertimbangkan dengan baik dan matang sesuai dengan kebutuhan kognitif dari klien, alhasil semua kegiatan dapat berjalan dengan baik dan lancar serta memenuhi target yang ingin saya capai. Dalam kasus ini, diperlukan adanya kesabaran dan ketekunan dalam mengahadapi klien yang memiliki masalah penurunan daya atau kemampuan kognitifnya, konsistensi dan persistensi merupakan kunci dalam kesuksesan menangani klien dengan gangguan kognitif.

Advertisements

Pengalaman Perdana Dalam Terapi Musik oleh Theresia Dorothy

Perkenalkan, nama saya Theresia. Saya adalah seorang mahasiswa jurusan Conservatory of Music di Universitas Pelita Harapan. Pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan kisah pengalaman perdana saya dalam praktek terapi musik. Praktek terapi musik merupakan bagian dari kurikulum Music Therapy di UPH. Kami, para mahasiswa peminatan Music Therapy, wajib mengambil mata kuliah praktek selama empat semester. Untuk praktek pertama yang saya ambil adalah praktek terapi musik dengan anak. Saya ditempatkan di sebuah sekolah luar biasa yang berlokasi di Jakarta Barat. Pengalaman menjadi panitia pengajar di sekolah luar biasa untuk acara konser musik amal yang digelar di kampus UPH membekali saya dengan pengalaman berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Pun demikian, saya merasa gugup karena belum memiliki pengetahuan tentang sekolah luar biasa ini.

Saat saya pertama kali berkunjung ke tempat praktek, saya langsung menjalani asesmen dengan klien pertama yang dirujuk kepada saya. Saya belum mendapat informasi apa pun tentang klien yang dirujuk ini sebelumnya. Dapat dikatakan persiapan saya untuk melakukan asesmen mendekati nol. Hal ini membuat saya semakin gugup karena saya harus berimprovisasi dan beradaptasi dengan cepat. Untungnya, saya mendapat kesempatan berbicara dengan ibu dari klien sebelum saya mulai asesmen. Klien tersebut merupakan seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang didiagnosis dengan Down Syndrome. Menurut informasi dari ibu klien, klien suka bermain drum dan alat-alat perkusi lainnya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menggunakan djembe dalam asesmen pertama.

Saat proses asesmen berjalan, saya melihat bahwa klien benar-benar senang bermain instrumen perkusi. Hal ini terlihat dari reaksi klien ketika saya mengajak klien untuk bermain djembe. Saat saya mulai memainkan salah satu lagu anak yang cukup dikenal, klien mulai memainkan djembe. Padahal saat awal klien masuk ruangan, klien masih malu-malu dan hanya duduk diam di meja. Tetapi ketika klien mulai bermain djembe, klien menjadi aktif dan ekspresif. Saya melihat hal ini sebagai sebuah perkembangan positif. Tandanya, klien memiliki tingkat kepercayaan diri yang baik. Proses asesmen berlangsung selama 30 menit. Saya mulai merasa tenang karena selama proses asesmen, klien memiliki kegemaran bermusik. Ketertarikan klein pada musik menjadi modal utama dalam terapi musik.

Tujuan klien mengikuti terapi musik adalah untuk melatih kemampuan berbicara klien. Setelah sesi keenam, perkembangan klien mulai terlihat. Klien yang biasanya hanya babbling, sekarang mulai mengucapkan beberapa huruf vokal dengan jelas. Kemajuan ini membuat saya merasa senang karena sesi yang telah kami jalani membuahkan hasil yang positif. Perkembangan dari sesi terakhir adalah kemampuan klien mengucapkan beberapa huruf vokal dengan mandiri tanpa perlu saya dampingi. Di penghujung semester menjelang dua sesi terakhir, perasaan saya bercampur antara senang dan sedih. Sebagai seorang mahasiswa pada umumnya, tentu saya merasa senang karena sebentar lagi kegiatan praktek akan selesai. Akan tetapi sebagai calon terapis, saya merasa sedih karena sesi akan selesai. Saya masih ingin melakukan banyak kegiatan yang mungkin dapat membantu klien berkembang lebih banyak lagi.

Melalui kegiatan praktek perdana ini, saya mendapat banyak pelajaran berharga. Ada tiga pelajaran yang menurut saya adalah pelajaran paling penting dalam proses terapi. Pertama, saya belajar bagaimana cara beradaptasi dengan cepat. Banyak kejadian yang tidak terduga pada saat sesi terapi berlangsung. Sebagai seorang terapis, kita harus berpikir dan bertindak dengan cepat dalam menanggapi kejadian-kejadian tersebut. Kedua, saya belajar mengolah rasa simpati dan empati saya ketika berhadapan dengan klien. Sikap profesional adalah dasar yang harus dimiliki oleh setiap terapis. Ada beberapa kali setelah sesi terapi selesai dimana saya tidak bisa berhenti berempati kepada klien. Rasa empati tersebut terbawa terus sampai sheari setelah praktek. Jika dibiarkan, hal ini akan menjadi batu sandungan. Melalui kejadian ini, saya menjadi sadar akan kelemahan saya dan mulai belajar untuk memberi batasan kepada diri saya sendiri agar tidak terlarut dalam rasa empati tersebut. Ketiga, saya belajar bagaimana cara berinteraksi dan menanggapi anak-anak berkebutuhan khusus. Biasanya setelah saya selesai melakukan sesi, saya akan berkeliling sekolah untuk melihat dinamika kegiata belajar-mengajar di sana. Saya melihat bagaimana para guru menangani murid-muridnya. Para guru tersebut mengajarkan kepada saya bahwa kita memang harus berempati dengan murid-murid, namun di saat yang bersamaan kita tetap harus tegas dalam memberi struktur.

Terapi musik dan musik itu sendiri memang masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Akan tetapi saya pribadi merasa senang dan bangga akan terapi musik. Kami dapat mencapai banyak hal melalui proses yang menyenangkan dan seru karena bantuan media musik. Sesi terapi yang membosankan menjadi menyenangkan dan memberi semangat baru bagi klien maupun terapis. Semoga melalui pengalaman saya telah saya bagikan ini dapat membantu masyarakat lebih memahami tentang terapi musik dan manfaatnya bagi orang lain yang membutuhkan.

Music Therapy with Immobile Clients by Tamariskha Tibby

Music therapy has been used as a therapeutic intervention for clients with various differing conditions and settings, including clients with cancer or those in palliative care units. As a music therapy student who have been and are assigned with clients with the conditions mentioned, I would like to share my personal experiences working in such settings.

I am currently working in an institution that facilitates a temporary home for children with cancer. They provide a place for the children and family to rest after receiving treatments from the hospital, as well as to be involved in various positive activities. I started doing music therapy sessions with two clients (client A and Z) since October 16th, 2018. It was a new and challenging experience for me since the clients I have been assigned to are very immobile due to their health conditions. Anxiety and confusion rushes in me, but I still managed to do a complete session with both of the clients together. I did not get any responses from the immobile clients, but from the two mothers. After the lyric-substitution activity, both mother cried. At first, I did not know what this means but my supervisor told me that music therapy with immobile clients is not just for the clients, but for the mothers as well. Music therapy may give them an opportunity to express their emotions, struggle and hope, as well as to facilitate the client’s and the mother’s dyadic relationship which may have been made more difficult due to the client’s health conditions that make them unable to express themselves verbally, or even through movement. After the session ended for the day, I felt like what I lacked was my knowledge of the health conditions of both patients which are brain tumours and cerebral palsy, and my personal repertoire as one of my clients really like Dangdut music. Two weeks have passed since the first session and I was referred to only one client, as client Z would be hospitalised for awhile. For this second session, I tried doing an MAR (Music Assisted Relaxation) technique for 13 minutes to create a sensory stimulation for the client and to give him a sense of relaxation as he was asleep, after I read a journal that says MAR has been used for clients diagnosed with brain tumours. A good thing that I did not witness on the first session happened, when client A moved his left hand on his own, which may also be a reflex reaction done in his sleep. It may seem too simple for many to be considered as a progress, however I see it as a response done by a child who can’t move nor talk on his own at all. Before the session ended, I had quite a long conversation with the mother and gained information about what kind of music the mother likes, and a few more additional informations about the family of the client.

On the fifth week of music therapy, another new things that therapist have not witnessed before in earlier sessions were happening. The client smiled more than twice during the session, first time I saw him smiled was during a conversation with his mother, as she told me about the client’s experiences when he was still able to run and play around with his friends. The second and the third time occurred after I did MAR with the mother and the client, using the same music and narrative as the previous session. From this session I learned that the mother’s emotion, can really influence the child’s own emotion. The mother told me that she was happy we were able to sing her favourite song, as she never really sung that again for a long time, for her child. The mood of the mother that day may have influenced the child as he smiled for a few times during the music therapy session. The client also moved quite a lot, in a stretching-like movements (ngulet) especially during and after the MAR. This particular session gives a renewed motivation for me to give my all into what I am doing. Although personally it is challenging and tiring as I seldom get responses from the immobile child, I was able to see and realise that the power of music is indeed substantial. Even for individuals who cannot speak nor do anything, music still heals them, and everyone with no exception.

Menyadari Keadaan yang Sesungguhnya Dibandingkan Fokus Terhadap Ekspektasi Pribadi by Anastasia Maria L.

Sejak pertengahan bulan Oktober 2018, saya mendapat rujukan dari pihak tempat saya melaksanakan praktek, dimana klien yang dirujuk bukanlah klien yang kondisi tubuhnya masih bisa aktif bergerak karena diagnosa medis yang belum begitu parah, namun adalah klien yang menderita kanker otak. Ya, ia adalah A, seorang anak kecil berusia 2 tahun yang telah menderita kanker tersebut sejak setahun yang lalu, yakni setelah ia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-2 tahun. Sejujurnya saya sempat kaget ketika mendapat rujukan untuk klien ini, karena sebelumnya pihak dari tempat saya melaksanakan praktek ini tidak menyetujui jika anak yang tidak lagi bisa berbuat apa-apa, hanya bisa terbaring di kasur, mendapatkan penanganan terapi musik, akan tetapi saya malah mendapatkan rujukan untuk menangani klien dengan kondisi tersebut.

Pada awal atau pertama kali pelaksanaan praktek, saya sempat bingung untuk menentukan jenis kegiatan yang bisa melibatkan A di dalamnya karena kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan yang melibatkan gerakan tubuh yang aktif, di saat yang sama juga saya harus melibatkan ibu klien. Seiring berjalannya sesi, ibu klien yang dulunya mungkin kesulitan untuk mengekspresikan apa yang dia rasakan, kini menjadi lebih mudah untuk mengekspresikan perasaannya. Pada sesi individual pertama, ibu klien sering mengeluarkan emosinya melalui tangisan, terutama saat melakukan kegiatan lyric substitution dan GIM (Guided Imagery and Music). Saat itu juga orangtua klien menceritakan pada saya kronologi anaknya sejak masih sehat hingga berada di keadaan seperti saat ini. Waktu demi waktu berjalan hingga sesi yang ketiga atau keempat saya tak kunjung melihat suatu perkembangan yang signifikan pada klien yang saya tangani. Saya mungkin secara tidak sadar belum begitu memahami akan keadaannya, dan masih begitu terfokus akan diri saya sendiri yang sebagai terapis menentukan needs and goals dari klien saya. Selain itu, makin hari makin banyak pula faktor yang membuat saya mulai merasa enggan dan tidak termotivasi untuk menjalankan praktek; lokasinya yang jauh dimana saya harus menempuhnya dengan bus, klien yang memiliki kondisi sangat lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan pada beberapa kali saya datang untuk menjalankan sesi klien sedang dalam kondisi tertidur dan sangat sulit untuk dibangunkan sehingga saya hanya bisa melakukan sesi bersama orangtua klien. Hal ini tentu membuat saya mulai merasa saya kurang bisa melakukan sesuatu dan mungkin yang saya lakukan adalah sesuatu yang mulai terlihat sia-sia. Akan tetapi, tiap minggunya saya harus merefleksi diri saya terkait dengan praktek yang saya jalankan dan dalam kelas supervision bersama dosen saya disitulah saya makin mengenal diri saya, semakin berpikir lebih dalam dan tentu berpikir kembali ke belakang, dan hal ini makin menyadarkan saya akan banyak hal. Setelah merefleksi diri saya lebih dalam, saya menyadari banyak hal yang kini menjadi penyebab mengapa saya mulai enggan dan tidak termotivasi lagi untuk menjalankan praktek bersama klien A ini. Saya terlalu memfokuskan akan goals yang saya tetapkan secara pribadi sehingga selama saya menjalankan praktek, dalam diri saya selalu ada harapan atau ekspektasi bahwa klien dan saya bisa mencapai bersama goals tesebut. Saya melupakan atau mungkin tidak menyadari satu hal, yakni selain menjalankan sesi bersama klien ini sendiri, ada sosok orangtuanya yang selalu mendampingi, yakni ibunya. Saya juga baru teringat kembali akan pernyataan ibunya yang sempat mengatakan bahwa pihak medis telah menetapkan bahwa kondisi hidup dari klien ini sudah tergolong ke dalam Palliative, dimana secara tidak langsung klien ini bisa dikatakan tidak dapat sembuh lagi. Walaupun saya bukanlah ibu dari klien, namun saya tentu dapat membayangkan bagaimana rasanya jika salah satu anggota keluarga saya mengalami hal serupa, tentu begitu menyakitkan untuk menerima kenyataan tersebut. Saya akhirnya menyadari bahwa sosok orangtua klien pun sangat membutuhkan sesuatu dari sesi praktek yang saya jalankan, dan ternyata benar bahwa orangtua klien merasa lebih baik ketika ia bisa meluapkan emosinya selama ini dalam kegiatan bersama pada sesi yang saya jalankan. Hal ini kembali memotivasi saya ketika saya menyadari masih ada hal yang bisa saya lakukan terkait dengan orangtua klien dan secara tidak langsung pada klien ini sendiri.

Melalui sesi yang saya jalankan bersama A dan orangtuanya ini, saya tidak hanya mengenal kehidupan yang dijalani A dan ibunya, melainkan saya juga makin mengenal diri saya yang awalnya begitu terfokus dengan ekspektasi pribadi saya, kini bisa benar-benar memahami akan keadaan yang sedang saya hadapi sesungguhnya.

A connection made (a reflection by Priska Setiadi)

It all started from a referral process. My client was referred to me because he showed some symptoms of mild autism. His teacher described how he behaved in class and how he socialized with his friends. She said that he had speech-delay, he was nonverbal, and one time he bit his friend in class. Despite of all that, she told me that he responded really well to music. With these information I began to search for relevant resources preparing for the assessment.

In the assessment I found that “The Wheels on the Bus” was my client’s favourite song. I could see this within 10 minutes when I first met him. When my client came in, directly he rushed to the musical instruments I placed in the middle of the room. He plucked and hit them randomly. After that, he ran around the room playing with stuff he found interesting. Seeing this I tried to catch his attention. I played my guitar, hit the tambourine, shook the maracas, but he didn’t respond. Suddenly his teacher (who was also in the room) said, “Hey, let’s sing the wheels on the bus!” So I sang it. Instantly he turned his head toward me, smiled, and danced to my music.

Through the first assessment I could see how music was able to connect us but then I began to wonder, how am I going to use the music? As I was looking for inspiration, I remembered what I’ve learned in Wigram’s book, Improvisation. I found Wigram’s improvisation method interesting and of great potential. In the preceding sessions I began to put into practice the techniques of improvisation, including: imitating, matching, dialoguing, and grounding.

During one session, I suddenly saw a spark in his eyes, something that I have never seen before. A spark that gave me the feeling as if we were finally connected and understood each other. It happened while I was imitating his voice, and he was suddenly aware of what I was doing. He then increased his volume as he was saying, “AAAA…!” and I increased the tension of my guitar strumming. Then, he said, “Stop!” and I stopped playing. Seeing this he laughed while looking at me. It was at that moment when I saw in his eyes the feeling of being understood.

From that moment, I began to see significant improvements in my client. He hugged me at the end of each session, he responded when I called his name, and he did what I instructed him to do in a musical game. His teacher also mentioned that she could see his improvement outside of the therapy session.

The feeling of being understood is probably the best feeling anyone can feel. We often got it wrong in terms of meeting children with autism. We want them to understand us. We want them to talk the way we talk, to learn the way we learn, to express emotion the way we express. Before we expect them to do so, maybe we are the ones who should try to understand them first and we can achieve that with music.

Jessica’s reflection on working with a child who has cancer

It was supposed to be a regular morning ‘till I received a text from my patient’s mom. B was an 11 year-old girl who was referred to my Music Therapy session about 3 years ago. She was diagnosed with blood cell cancer a year before her referral. B was angry and terribly upset, not to mention her dad left the family afterwards. Since then, B stopped communicating about her thoughts and feelings, which certainly left her mom concerned about her well-being and how it might affect her physical health.

B was resistant when she was first referred to my music therapy session, claiming that it was pointless to refer a dying girl into any sort of therapeutic intervention. It was when I started talking about how music was my best friend during my toughest periods in life, that B started to open up about how much she missed her best friend. After being introduced to songwriting, she was then able to gradually express her thoughts in the songs we wrote in our music therapy sessions and made a memorable set of recording to the songs we sang together. The inclusion of music therapy into B’s treatment plan made a huge improvement on her well-being. It was like she finally found the words to her thoughts and the voice to her feelings in our music therapy sessions. B was finally able to accept her condition and embrace her beautiful voice through music.

Three years after the termination of B’s music therapy session, I received a text from B’s mom telling me that B has just passed away. Her mom mentioned that she was very thankful how music therapy was introduced to her earlier and through music, she had the chance to understand her daughter beyond the cancer that she went through.

“It was a battle worth fighting”, she texted. That one text from B’s mom reminded me why I started my music therapy journey at the first place. It is obviously at its seed stage but the lessons I learned throughout the journey has been intriguing, how it did not only made me a stronger individual but the way it reached so many people and touched so many souls are one of the reasons to my dedication. How I have always wanted to live my life to better the lives of the people. How it felt to know you’ve at least sparked the tiniest bit of hope left.

Written by: Jessica Hariwijaya

 

Ayah dan Ibu, Mari Bersenandung dengan Buah Hati Anda!

(Tulisan ini telah dipublikasikan di: http://musicalprom.com/2017/07/11/untuk-ibu-dan-ayah-di-luar-sana-mari-bernyanyi/ dan http://rubik.okezone.com/read/48182/ayah-dan-ibu-ayo-bernyanyi-untuk-si-kecil)

Sudah lama saya tidak menulis, namun kali ini sepertinya tidak terelakkan karena banyak sekali yang masuk ke dalam kepala dan hati saya selama 5 hari terakhir di acara The 15th World Music Therapy Congress di Tsukuba, Jepang. Acara yang diselenggarakan tiap 3 tahun oleh The World Federation of Music Therapy dan kali ini dihadiri oleh lebih dari 2300 peserta, menjadi labuhan dari terapis musik di seluruh dunia beserta profesi-profesi lain yang terkait untuk berkumpul dan berbagi ide, pengalaman, dan rancangan karya di masa depan. Sudah seyogyanya sebagai terapis musik kami senantiasa memperbarui ilmu pengetahuan karena manusia terus berubah, pun demikian pendekatan dalam praktek maupun penelitian terapi musik yang disesuaikan dengan perkembangan jaman.

Di antara begitu banyak presentasi, baik dalam bentuk presentasi oral, simposium, loka karya, poster, dan round table, ada beberapa hal yang sangat menarik perhatian saya, terkait dengan kecintaan saya dengan terapi musik dan keluarga. Salah satu di antaranya adalah presentasi dari Vicky Abad, seorang terapis musik dan peneliti terapi musik dari Queensland, Australia, mengeksplorasi dan merefleksikan peran musik dalam populasi anak usia dini serta identitas musikal orang tua dalam mengasuh anak. Ia memulai pemaparannya dengan mengingatkan kembali akan fungsi sosial musik. Fungsi ini jelas memudar sesuai dengan perkembangan teknologi. Musik bukan sesuatu yang dibagikan dan dimiliki bersama-sama lagi. Peran pemutar musik (misalnya kaset atau CD) yang memainkan musik untuk didengarkan bersama-sama, kini dinikmati secara individual melalui handphone atau ipod yang dihubungkan ke earphones.

Dengan meningkatnya budaya konsumerisme, peran musik dalam masyarakat pun terpengaruh. Lagu yang dulunya digunakan ibu untuk menidurkan bayinya, untuk berinteraksi dan merekatkan hubungan dengan anaknya, kini lebih banyak diperhitungkan sebagai cara untuk membuat seorang anak (semakin) pintar. Mozart Effect, misalnya mungkin terdengar familiar bagi anda? Peran musik yang lain, misalnya dalam perkembangan kepercayaan diri, koordinasi fisik, terabaikan karena fokus utama di bidang kognisi. Interaksi musikal dalam bentuk bernyanyi bersama, sahut-menyahut, yang berkembang membentuk kelekatan bayi dan ibunya (dan/atau ayahnya) yang akan mempengaruhi perkembangan emosional dan menjadi tolak ukurnya dalam hubungannya di usia yang lebih dewasa, seolah-olah terlupakan.

Fenomena ini didukung oleh maraknya sosial media yang menyebarkan mengenai hal-hal yang sudah terkemas oleh berbagai opini. Ironisnya, orang tua modern memiliki tendensi mencari informasi melalui sosial media ketimbang menilik lebih jauh hasil sumber terpercaya, misalnya penelitian ilmiah yang diterbitkan. Ketika orang tua meninggalkan intuisi mereka dalam merawat dan membesarkan anak, dan berpindah ke pengetahuan yang sudah berbaur dengan elemen subjektif lain tanpa melihat ke potensi dirinya sebagai seorang makhluk musikal, apakah yang terjadi?

Abad mengingatkan akan peran musik, bukan hanya bagi anak, namun juga orang tuanya. Pada setting Neonatal Intensive Care Unit (NICU), misalnya, terapis musik memfasilitasi interaksi musikal bayi dan ibunya agar bayi lebih tenang (regulasi detak jantung dan pernafasan) sehingga dapat berkembang dengan baik. Tapi manfaat terapi musik tidak berhenti di situ. Sang ibu/ayah yang menggendong, menimang, dan bernyanyi pada bayinya mendapatkan kepercayaan diri ketika ia melihat suatu perubahan pada perilaku bayi. Pada saat bersamaan sang ibu/ayah menemukan (kembali) identitas musikalnya yang mengiringinya memulai peran baru sebagai orang tua.

Wahai ibu dan bapak, apakah anda bernyanyi pada/untuk/dengan anak anda? Baik nursery rhymes, lagu kesukaan, atau nada hasil improvisasi anda; baik merdu maupun sumbang (terlepas siapapun yang mengatakannya); biarlah bayi anda mengenal suara anda. Singkirkan sejenak segala piranti elektronik, ambil waktu dengan bayi anda, bermusiklah bersama, bermain mengeksplorasi nada, tempo, dinamik, timbre, irama, segala elemen yang musik dapat tawarkan, karena semua itu milik anda. Selamat bermusik!